Skip to main content

Posts

Pengalamanku Tinggal di SLB-C

Untuk mengisi liburan kuliah menuju semester 5 kami para frater diutus ke berbagai tempat untuk tinggal dan mengalami secara langsung hidup bersama umat. Kegiatan ini berlangsung hampir dua pekan (tepatnya 12 hari). Sebagian besar frater ditempatkan untuk tinggal di stasi-stasi di beberapa paroki. Sesuatu yang berbeda, pada tahun ini beberapa frater yang diberikan kesempatan untuk mengalami hidup di tempat lain yaitu dalam rumah karya kategorial. Saya bersama tiga saudara yang lain kebetulan diberikan tugas untuk tinggal di sebuah SLB di dekat kota Medan. Walaupun kerap disebut di Medan, namun sebetulnya tempat ini sudah termasuk wilayah Kabupaten Deli Serdang. Tempat ini lebih sering disebut SLB-C Santa Lusia, Laut Dendang. SLB ini dikelola oleh para suster dari konggregasi KSFL. Saya pada awalnya bertanya-tanya apakah kira-kira maksud dari huruf C ini. Ternyata huruf ini menandakan jenis dari sekolah luar biasa ini. Dari informasi yang saya dapatkan, ternyata ada enam jenis sekola...

Portofolio Baliho

Saya menyukai desain grafis. Sejak SMA saya sering diminta untuk mengerjakan desain grafis untuk macam-macam hal. Kebanyakan adalah meng-edit foto pribadi. Bahkan saya pernah diminta mendesain ulang Kartu Pelajar SMA untuk tujuan penipuan wkwk. Di luar itu, saya biasa diminta membuat desain grafis untuk baliho/spanduk. Khususnya baliho untuk acara sekolah/kampus. Saat diminta (saat itu) tidak dibayar, murni dengan senang hati sebagai penyaluran hobi saja. Kali aja kamu mau pesan juga? (Berbayar tapi ya, wkwk. Desain Grafis bukan Desain Gratis). Berikut ini adalah sebagian besar koleksi desain yang masih saya simpan. Lumayanlah, ya, sebagai portofolio. Beberapa sudah hilang filenya.

Cerpen: Renungan di Kala Senja

Sudah 40 menit aku hanya duduk terdiam di depan teras ini. Memandang jalan, menunggu berhentinya hujan yang sedang menetes dengan derasnya. Ributnya suara air yang terjun bebas menyentuh tanah rupanya begitu kunikmati. Bagaikan melodi di kala senja. Alam memainkan orkestra dengan merdunya. Seorang ibu melintas. Ia mengenakan pakaian serba biru, kecuali baju putih. Selendang biru, rok panjang biru. Gaya fashion yang menurutku cukup aneh untuk orang di sekitar sini. Sebelah tangannya membawa payung, sementara tangan kirinya sibuk memeluk barang bawaannya seakan tidak ingin yang dibawanya itu basah. Tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil melaju dengan kencangnya. Yang kulihat selanjutnya adalah seorang ibu dengan pakaian yang basah kuyup sebelah. Rupanya mobil yang lewat tadi melintasi genangan air di jalan yang membuatnya memercik kepada wanita itu. Ia berhenti sejenak, menatap tepat pada tas biru tua yang ia bawa. Sejurus kemudian ia memandang ke arahku. Sekilas menyentuh mat...

Kade’ Munuh Ular Ka’ Babah Urat, Ular Mati Akar Nana’ Putus

Setiap daerah memiliki budayanya yang khas dan unik. Dalam setiap budaya biasanya dikenal ungkapan-ungkapan dalam bahasa daerah yang berisikan kearifan lokal masyarakat. Setiap daerah tentulah memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda. Hal ini dapat terjadi sebab latar belakang, keadaan alam, dan kehidupan sosial masyarakat berbeda-beda pula. Ungkapan-ungkapan ini khas dan unik karena merupakan refleksi masyarakat atas kehidupan nyata yang mereka alami sehari-hari. Dalam tulisan ini penulis mau mempaparkan sebuah ungkapan yang berisi kearifan lokal masyarakat dari daerah di mana penulis berasal. Ungkapan tersebut ialah sebagai berikut: “kade’ munuh ular ka’ babah urat, ular mati akar nana’ putus”. Ungkapan ini dituturkan dalam bahasa Ahe, yaitu bahasa yang dipakai sub-suku Dayak Kanayatn. Apabila diterjemahkan secara bebas ungkapan ini dapat berarti sebagai berikut: kalau membunuh ular di bawah urat kayu, biarlah ularnya mati tetapi akarnya tidak putus. Kehidupan sehari-hari ma...

Dosa Manusia dan Virus Komputer: Sebuah Analogi

Masa prapasakah dimulai dengan perayaan Rabu Abu. Masa prapaskah juga sering disebut masa pertobatan. Sebagai bentuk pertobatan, saya mengawali masa prapaskah ini dengan melakukan pengakuan dosa. Sejujurnya saya bukanlah umat beriman yang sering menerima sakramen pengakuan dosa. Saya biasanya mengaku dosa ketika mengawali dua peristiwa besar dalam Gereja Katolik. Pertama, Paskah, yang diawali dengan masa Prapaskah. Kedua, Natal, yang diawali dengan masa Adven. Dengan demikian, barangkali dalam setahun saya biasanya mengaku dosa hanyalah tiga kali. Selain sebelum Natal dan Paskah, saya juga melakukannya ketika retret sebelum pembaruan kaul. Dalam arti tertentu, saya melakukan pengakuan dosa ketika sedang ada “pengakuan dosa massal” saja. Tahun ini saya melewatkan pengakuan dosa yang dibuat pada masa Adven. Latar belakangnya, saat itu retret masa Adven kami dilakukan secara mendadak, dan ketika waktunya pengakuan dosa ada ramai sekali saudara. Saya lebih memilih mengalah dan a...

Lagu: Jubata

Lagu ini bukanlah ciptaan saya. Saya hanya berusaha mengetiknya sehingga menjadi partitur. Lagu ini pernah kami bawakan ketika di Seminari Nyarumkop. Sayangnya partiturnya sudah hilang dan sulit didapat. Demikianlah, teks lagu yang ini adalah 'transkripsi' dari lagu berikut ...   Teks ini bisa diunduh dengan klik di sini.

Lagu: Pujian Persembahan

Lagu ini sebetulnya saya buat ketika di Novisiat di Lembah Gunung Poteng. Waktu itu ada dosen kami yang mengajar secara khusus tentang musik liturgi. Lagu ini adalah salah satu tugas dalam mata kuliah itu. Ketika saya tingkat satu di Biara Alverna, ada lomba cipta lagu dalam rangka peringatan Pesta Santo Fransiskus. Kebetulan lagu ini dapat posisi ketiga. Lagu ini sederhana saja. Saya buat dengan melodi gaya khas suku Dayak di Kalimantan. Liriknya, khususnya bait pertama diambil dari salah satu doa karya Santo Fransiskus, dengan perubahan di sana-sini demi kepentingan "enak didengar". Untuk mengunduh silahkan klik di sini.