Skip to main content

Posts

Lagu: Jubata

Lagu ini bukanlah ciptaan saya. Saya hanya berusaha mengetiknya sehingga menjadi partitur. Lagu ini pernah kami bawakan ketika di Seminari Nyarumkop. Sayangnya partiturnya sudah hilang dan sulit didapat. Demikianlah, teks lagu yang ini adalah 'transkripsi' dari lagu berikut ...   Teks ini bisa diunduh dengan klik di sini.

Lagu: Pujian Persembahan

Lagu ini sebetulnya saya buat ketika di Novisiat di Lembah Gunung Poteng. Waktu itu ada dosen kami yang mengajar secara khusus tentang musik liturgi. Lagu ini adalah salah satu tugas dalam mata kuliah itu. Ketika saya tingkat satu di Biara Alverna, ada lomba cipta lagu dalam rangka peringatan Pesta Santo Fransiskus. Kebetulan lagu ini dapat posisi ketiga. Lagu ini sederhana saja. Saya buat dengan melodi gaya khas suku Dayak di Kalimantan. Liriknya, khususnya bait pertama diambil dari salah satu doa karya Santo Fransiskus, dengan perubahan di sana-sini demi kepentingan "enak didengar". Untuk mengunduh silahkan klik di sini.

Pilihan Dasar Hidup Manusia

Hidup adalah pilihan. Setiap saat manusia dihadapkan pada pilihan, bahkan tidak memilih juga merupakan suatu pilihan. Pilihan-pilihan itu dapat berupa soal remeh dan sederhana, tetapi juga dapat berupa pilihan yang rumit dan paling menentukan. Manusia dalam dirinya mempunyai kebebasan untuk membuat keputusan atas pilihan-pilihan tersebut. Seringkali tidak manusia sadari, pilihan-pilihan yang telah dibuatnya ternyata memberikan pengaruh yang signifikan bagi hidup. Pilihan-pilihan yang seseorang buat setiap harinya mencerminkan pilihan dasarnya, pilihan dirinya hendak menjadi manusia yang bagaimana. Lewat pilihan-pilihan itu, manusia dapat memberikan arah dan tujuan bagi hidupnya. This is not the game world, there is no logout button. Untuk menentukan arah hidup itu, sangatlah penting peran suatu pilihan yang disebut opsi fundamental. Istilah opsi fundamental digunakan untuk menunjuk pada pilihan dasar atau sikap dasar manusia. Opsi fundamental ini dimaksudkan sebagai arah kehidupan...

Lagu: Bayi Pendamai

Akhir-akhir ini saya lagi rajin untuk mengetik partitur lagu. Sebenarnya sejak SMA saya dan teman-teman sering membuat berbagai lagu. Beberapa sudah ditulis, tapi kebanyakan hanya dinyanyikan saja. Dari yang sudah ditulis dan sudah berbentuk partitur itu pun sebetulnya masih banyak error yang membuatnya membingungkan. Maklumlah, saat itu masih belum tahu cara menulis lagu. Setelah sekian tahun, saya sedikit banyak belajar tentang penulisan partitur musik. Kini timbul niatku untuk menulis ulang lagu-lagu lama yang pernah kami buat dulu. Well, lagu ini adalah salah satunya. Lagu yang berjudul Bayi Pendamai ini sejatinya dibuat untuk lomba lagu dan band pada pesta Natal ketika saya masih di seminari pada tahun 2014. Sayangnya karena kekurangan pemain drum kami tidak jadi membawakannya untuk lomba tersebut. Hanya kami tampilkan sebagai hiburan. Lagu ini liriknya dibuat oleh Mico "Bang Dek", yang sebenarnya diambil dari lirik buatan kakak laki-lakinya. Untuk lagunya saya bua...

Vocation Story

Saya memakai pakaian alba di masa SMA. Masa akhir SMA memang menjadi masa di mana kita akan membuat sebuah keputusan yang besar untuk hidup kita bertahun-tahun berikutnya. Di akhir SMA kita diberi pilihan untuk melanjutkan pendidikan tinggi yang kira-kira akan menjadi gambaran profesi kita kelak. Saya menjalani pendidikan SMA di sebuah seminari menengah. Sekolah seminari yang tentu tidak asing bagi kita, karena namanya yang mashyur sebagai seminari menengah tertua di tanah Kalimantan. Sebetulnya saya pun tidak menyangka, bahwa setelah menamatkan seminari menengah, melanjutkan studi di seminari tinggi Kapusin adalah pilihan saya diantara sekian banyak tawaran setelah menamatkan SMA. Awalnya hanyalah olok-olok. Ketika akan diadakan pengukuhan Uskup Agung Pontianak yang baru, para siswa seminari diijinkan untuk menghadiri acara tersebut. Namun dengan beberapa syarat: Pertama, berangkat dengan biaya sendiri. Kedua, yang boleh berangkat ialah mereka yang akan melanjutkan ke seminari ting...

Hello World!!

Bagaimana aku mendefinisikan diriku? Di beberapa website setengah sosial media (maksudku forum), saja biasanya menulis deskripsi untuk akun saya sebagai berikut Seorang homo sapiens; tidak nirmala tetapi di atas rata-rata; bukan penjahat namun kadangkala dipanggil Bang Sat; pencinta wanita, tpi lebih cinta kepada Sang Pencipta. Well, suatu perkenalan yang singkat. Penuh makna karena sebetulnya sungguh kalimat dalam bahasa yang abstrak. Saya kira kenalan dengan diri saya tidak terlalu penting. Saya cukup sadar eksistensi diri ini memang nggak penting penting amat, lagipula pengalaman membuktikan tidak banyak yang ingin kenal lebih jauh selain dari sekedar tahu nama. Kenali sajalah diri saya dari pikiran-pikiran yang tertuang dalam tulisan-tulisan di blog sederhana ini. Banyak orang yang berkata jangan lihat nasihat datang dari siapa. Kamu bisa ikuti saja kata-kata bijak dari orang jahat, sejauh kamu tidak ikuti perbuatan jahatnya. Basa-basinya kok panjang amat bang? Yup, setidakn...

Cerpen: Kala Kerja

Cahaya matahari yang menyinari taman sebelah pastoran itu sudah nyaris kemerahan, artinya sebentar lagi matahari berpendar meninggalkan takhtanya. Satu hal yang aku rasakan sekarang. “Gua pusing beb..!!” gugamku kepada Vian, rekan kerjaku sebagai sekretaris asrama seminari yang tak lama lagi jabatan kami ini segera diambil alih oleh adik kelas kami kelas Syntaxis. “Heh, ga usah panggil gua pake beb kalii, jijik gua.., maho lu..” jawabnya dengan ekspresi dibuat-buat “Halaah, pake jijik segala, udah biasa juga..” Aku berdiri, mengambil tumpukan kertas kosong yang sekarang sudah tercetak ribuan huruf di atas permukaannya. “Sisa empat paket lagi nih..” laporku kepada kolegaku itu. “Oke, oke... huahhmm.., kita tadi ngerjain ini dari jam berapa ya bos?, udah sore banget ni” “Ga tau ah, pokoknya dari setelah makan siang tadi” jawabku seadanya. “Emang sialan itu Baden, laptop pake dibawa ke Sanggau Ledo segala lagi, mana data disitu semua.., ini kan ngerjain kita namanya sob, ini juga ...